Tampilkan postingan dengan label perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Jenis-Jenis Missile

Missle Tomahawk
The-BGM 109 Tomahawk adalah jangka panjang, semua cuaca, rudal jelajah subsonik. Diperkenalkan oleh General Dynamics di tahun 1970-an, ia dirancang sebagai jarak menengah dan panjang, rudal ketinggian rendah yang bisa diluncurkan dari kapal selam tenggelam. Hal ini telah diperbaiki beberapa kali, dengan cara divestasi perusahaan dan akuisisi, sekarang dibuat oleh Raytheon. Beberapa Tomahawks juga diproduksi oleh McDonnell Douglas.
Missle Tomahawk terdiri dari sejumlah subsonic, rudal bertenaga mesin jet untuk menyerang berbagai sasaran permukaan. Meskipun sejumlah platform peluncuran telah dikerahkan atau dibayangkan, hanya laut (baik kapal permukaan dan kapal selam) meluncurkan varian saat ini dalam pelayanan. Tomahawk memiliki desain modular, yang memungkinkan berbagai hulu ledak, bimbingan dan kemampuan jangkauan.


Missle Trident

Rudal Trident adalah Peluru kendali balistik Kapal Selam (SLBM) dirancang oleh Lockheed Martin Space Systems dan General Dynamics di Amerika Serikat dengan kendaraan re-entry beberapa mandiri-ditargetkan (MIRV) kemampuan. Armada Rudal Balistik (FBM) dipersenjatai dengan hulu ledak nuklir dan diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir rudal balistik (SSBNs). rudal Trident yang dibawa oleh empat belas aktif kelas kapal selam Angkatan Laut AS Ohio, dengan hulu ledak Amerika Serikat, dan empat kapal selam Angkatan Laut Kerajaan kelas Vanguard, dengan hulu ledak buatan Inggris.
Trident I (C4 ditunjuk) ditempatkan pada tahun 1979 dan bertahap di tahun 1990-an dan awal 2000. Trident II pertama kali digunakan pada tahun 1990, dan direncanakan akan bekerja selama tiga puluh tahun kehidupan dari kapal selam, sampai 2027.


Intercontinental ballistic missile (ICBM)Sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM) adalah rudal balistik dengan jarak jauh (lebih dari 5.500 km atau 3.500 mil) umumnya dirancang untuk pengiriman senjata nuklir (memberikan satu atau lebih hulu ledak nuklir). Karena jangkauan yang besar dan senjata, dalam sebuah perang nuklir habis-habisan, rudal balistik berbasis lahan dan berbasis kapal selam akan membawa sebagian besar kekuatan destruktif, dengan pembom senjata nuklir memiliki sisanya.
ICBM dibedakan dengan memiliki rentang yang lebih besar dan kecepatan dari rudal balistik lain: rudal balistik jarak menengah (IRBMs), rudal balistik jarak menengah (MRBMs), rudal balistik jarak pendek (SRBMs)-ini rudal balistik jarak pendek dikenal secara kolektif sebagai teater rudal balistik. Tidak ada definisi tunggal yang rentang standar akan dikategorikan sebagai antarbenua, menengah, sedang, atau pendek.


Nuclear Artillery/Cannon
 Nuclear Artillery,adalah subset dari hasil terbatas-senjata nuklir taktis, khususnya senjata-senjata yang diluncurkan dari tanah di medan target. artileri nuklir dapat disampaikan dengan menggunakan senjata, roket atau rudal.
Perkembangan artileri nuklir adalah bagian dari dorongan luas oleh negara-negara seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Britania Raya untuk mengembangkan senjata nuklir yang dapat digunakan taktis melawan musuh unit militer di lapangan (yang bertentangan dengan menggunakan strategis terhadap kota-kota, basis , dan industri). Senjata-senjata termasuk ranjau nuklir,torpedo, penghancuran amunisi, senjata anti-pesawat dan artileri.


Multiple independently targetable reentry vehicle(MIRV)
(MIRV) hulu ledak adalah sebuah koleksi senjata nuklir dilakukan pada sebuah rudal balistik antar benua tunggal (ICBM) atau kapal selam Peluru kendali balistik (SLBM). Menggunakan hulu ledak MIRV, sebuah rudal diluncurkan tunggal bisa menyerang beberapa sasaran, atau target lebih sedikit berlebihan. Sebaliknya hulu ledak kesatuan adalah hulu ledak tunggal pada rudal tunggal.




Selasa, 05 Oktober 2010

JENIS-JENIS HELI TEMPUR TERKUAT DI MEDAN PERANG


           Heli-heli dari Resimen Udara Operasi Khusus ke-160 AH-6 Little Bird memberondongkan minigun kaliber 7,62 mm dan roket kaliber 70 mm untuk memukul mundur gerombolan milisi. Sesekali AGM-114 Hellfire dimuntahkan. Namun belum cukup ampuh untuk memukul mundur milisi pro Mohammed Fahra Aideed. Para milisi tetap merubungi bangkai helikopter MH-60L/K Black Hawk dari Resimen ke-160 yang rontok disengat RPG. Pilotnya dikeroyok, dipukuli dan diarak keliling kota. Kisah keperkasaan Resimen ke-160 yang kesohor dengan gelar Night Stalkers di Mogadishu 3 Oktober 1993, diangkat ke layar lebar di bawah titel Black Hawk Down.
          Diawali dari Perang Vietnam, penggunaan helikopter sebagai kavaleri udara bersenjata semakin meningkat 20 tahun terakhir. Dari sekadar senapan mesin kaliber 12,7 mm yang digotong, rudal pun saat ini jadi pilihan utama. Mulai rudal udara ke udara maupun rudal antitank. Daftarnya bisa seabrek, sebut beberapa mulai dari FIM-72 Stinger, AIM-9 Sidewinder, Strela 3, AT-6 Spiral, atau AGM-114 Hellfire.
          Hingga detik ini, kalangan pabrikan dan militer sejagat masih sepakat pada tiga kategori senjata helikopter: rudal, senapan, dan roket. Bedanya dengan pesawat fix wing hanya pada satu hal, yaitu tidak mampu membopong bom.
          Sejarah helikopter mampu membawa rudal berawal dari akhir 1950, ketika heli-heli (rotorcraft) AS dan Prancis sukses menembakkan Nord-Aviation SS-10 wire-guided weapon. Hanya saja, versi awal ini seperti halnya rudal AS-11 (Prancis) dan AT-2 Swatter dan AT-3 Sagger (keduanya Rusia), relatif lambat dan sangat rentan menghadapi target terbang. Generasi keduanya seperti Hughes BGM-71 TOW dan Euromissile HOT (Prancis), jauh lebih gesit dan sudah digunakan sebagai arsenal udara ke udara dalam Perang Irak-Iran. Iran dengan Bell AH-1 Cobra, Irak menggunakan Mi-24 Hinds. Masih lagi bisa disebut gara-gara mumpuni kecepatan adalah AGM-114, AT-6, Euromissile TRIGAT, AT-9 Whirlwind, dan Armscor Atlas ZT-3 Swift. Tak melulu jago di udara, AGM-114 dengan kecepatan 280 meter per detik misalnya, juga andal menguntit target di darat.
          AL AS dikenal sebagai angkatan pertama yang mengaktifkan rudal di heli. Cobra kala itu dipasangkan dengan AIM-9L/M berkecepatan Mach 2,5 untuk menghadapi pesawat tempur maupun heli tempur sejenis. Namun saat ini, kebanyakan heli tempur dipersenjatai rudal Stinger berpenuntun infra merah. Heli OH-58D AD AS malah mematok Stinger dengan pembidik HUD (head up display) Thompson CSF VLT 100. Sementara heli PAH-1 (BO-105) Jerman dilengkapi rudal sekelas TY-90 ini untuk antitank.
          Keampuhan rudal seberat 35 pon (15,8 kg) satu ini tak perlu diragukan lagi. Lusinan helikopter Hind dan Hip Soviet pernah dibuat rontok selama Perang Afghanistan-Soviet. Saat itu pengoperasiannya masih dipanggul di bahu. Karena keberhasilan itulah, dalam perkembangan selanjutnya Stinger menjadi senjata utama udara ke udara heli RAH-66 Comanche dan pesawat-pesawat AD AS.
 

       Tak ketinggalan AD Cina seperti dilaporkan AirForces Monthly Juli 2002, akan mempersenjatai heli serang Harbin Z-9/Z-10 dengan rudal infra merah TY-90 berkecepatan Mach 1,75 dengan jangkauan maksimal 4.000 m. Polandia dilaporkan mempersenjatai Mi-24 dengan R-60 (AA-8 Aphid), dan memperkuat struktur sayap dan mesin Mi-28 dan Ka-50 untuk membawa rudal R-73 seberat 125 kg.
Walaupun sangat mumpuni, rudal-rudal berpenuntun infra merah (infra-red guided air to-air-missiles) ini tetap saja memiliki keterbatasan. Permasalahan muncul ketika membidik target terbang di tengah kecamuk perang. Pilot mesti memperdekatkan jarak dengan heli lawannya yang justru membahayakan. Keterbatasan lainnya termasuk memastikan rudal lock-on sebelum ditembakkan, yang mana saat bersamaan akan gampang dikenali karena lapisan atmosfer pada minimum penembakkan dengan jarak 500 m (1.640 kaki). Posisi target juga mesti dihitung akurat, jika tidak ingin kehabisan bahan bakar. Total amunisi yang dibawa juga mesti diimbangi pengurangan bahan bakar.
Selanjutnya, yang jadi perhatian pabrikan dan pengguna adalah drag yang timbul akibat penempatan persenjataan ini. Tidak heran bila pada heli-heli futuristik yang mangadopsi teknologi siluman, mengharuskan semua persenjataan disembunyikan di perut pesawat. Dengan besarnya drag serta bahan bakar terbatas, memaksa pilot harus pintar-pintar membuat manuver yang aman.
Arsenal lain yang penting bagi helikopter adalah senapan mesin/kanon dan roket. Tak kalah hebat dengan rudal, persenjataan seperti roket juga memegang peran penting dalam pertempuran udara modern. Konsep awalnya roket digunakan untuk membidik target di darat, pun bergeser bisa memainkan peran dalam perang udara. Heli-heli Apache, Cobra, Warrior rata-rata membopong satu tabung peluncur berisi 7, 12, atau 19 roket. Salah satu yang kesohor roket Zulu. Korbannya dua A-4 Skyhawk masing milik AS di Perang Vietnam dan Israel dalam Perang Yom Kippur.

negara bagian bebas vs negara bagian budak

Perang Saudara Amerika adalah perang yang terjadi antara 1861 dan 1865 di Amerika Serikat (AS). Sekelompok negara bagian di bagian selatan ingin merdeka, sedangkan pemerintahan dan negara-negara bagian di utara ingin menjaga AS tetap utuh.

Penyebab

Di Selatan, banyak orang yang menjadi budak yang dimiliki orang lain, dan sebagian besar pekerjaan di ladang dikerjakan oleh mereka. Sedangkan negara-negara bagian di utara telah memutuskan membuat hukum yang menyatakan tak seorang pun bisa memiliki orang lain. Negara-negara utara itu disebut "negara bagian bebas", dan di selatan "negara bagian budak". Selain itu, sebagian besar tanah milik AS di barat belum dibagi atas negara bagian, namun teritori, di mana penduduk bukan penduduk asli tinggal. Tak seperti negara bagian, teritori itu tak membantu memutuskan siapa yang bakal jadi presiden, dan teritori itu tak mengirim wakilnya ke Washington, DC untuk membuat hukum seluruh negeri. Banyak orang kulit putih pindah ke sana, dan tiap orang setuju bahwa suatu hari semua teritori itu harus disebut negara bagian. Di utara, orang ingin negara-negara bagian itu menjadi negara bebas. Di selatan, orang menginginkannya menjadi negara bagian budak. Abraham Lincoln berasal dari utara, dan saat ia berpacu demi jabatan presiden ia berkata bahwa semua negara bagian itu menjadi negara bagian bebas, meski ia tak merencanakan menyuruh tiap budak di negara bagian budak itu. Para pemilik budak di selatan juga takut akan beberapa orang yang mengatakan mereka ingin menjadikannya kejahatan untuk memiliki para budak di semua bagian AS. Banyak juga orang di utara yang tinggal di kota-kota dan bekerja di pabrik, dan mereka menginginkan kebijakan yang membantu ekonominya. Namun banyak orang di seltan yang tinggal di kota kecil dan bekerja di pertanian, dan menginginkan kebijakan yang mendukung ekonominya. Sereka sering tak bisa setuju pada keputusan terbaik.

Saat Lincoln memenangkan pemilu dan menjadi presiden baru, banyak negara budak yang memisahkan diri AS, dan membentuk negara baru, Negara Konfederasi Amerika, yang beribukota di Richmond, Virginia.

Perang

Ada 2 daerah penting di mana perang itu terjadi - di barat dan di timur.

Di wilayah timur, ada ibukota AS, Washington, District of Columbia, dan ibukota Konfederasi di Richmond. Kedua kota itu hanya berjarak 90 mil. Di daerah ini, pemimpin militer Konfederasi ialah Robert.Lee .Lee adalah jenderal yang baik, dan banyak memenangkan pertempuran. Meski memiliki banyak prajurit, utara tak bisa menduduki Richmond dengan mudah hingga akhir perang pada 1865.

Di wilayah barat, ada sungai besar, Sungai Mississippi. Ulysses Simpson Grant (yang kemudian menjadi Presiden AS) banyak memenangkan pertempuran di sini. Pasukan utara menduduki hampir semua kota di sungai Mississippi, namun Konfederasi masih memegang Vicksburg. Pada 4 Juli 1863, Vicksburg menyerah pada Ulysses S. Grant. Ini membagi Konfederasi menjadi 2.

Lincoln memutuskan bahwa Ulysses S Grant ialah jendral terbaiknya. Ia mengangkat Ulysses Grant jenderal di bagian timur. Grant menyerang Lee kembali. Lee menyadari pasukannya kalah banyak dan ia menyerah pada Grant.


Tanggal 12 April 1861 – 9 April 1865 (pertempuran terakhir selesai 13 Mei 1865)
Lokasi Amerika Serikat Selatan
Hasil Kemenangan pihak Uni, rekonstruksi, penghapusan perbudakan
Casus belli Serangan Konfederasi ke Benteng Sumter

Pihak yang Terlibat
Pihak Uni : Amerika Serikat

Kekuatan : 2.200.000
Jumlah Korban : 110.000 Gugur di medan perang
Total Korban tewas : 360.000 orang
Total yang Terluka : 275.200 Orang


Pihak Konfederasi : Negara Bagian Amerika

Kekuatan : 1.064.000
Jumlah Korban : 93.000 Gugur di medan perang
Totaol Korban tewas : 260.000 orang
Total yang Terluka : lebih dari 137.000 orang

George H. Bush vs Saddam Hussein

Perang Teluk I

Pesawat tempur AS melintasi kilang minyak yang terbakar.
Perang Teluk Persi I atau Gulf War disebabkan atas Invasi Irak atas Kuwait 2 Agustus 1990 dengan strategi gerak cepat yang langsung menguasai Kuwait. Emir Kuwait Syeikh Jaber Al Ahmed Al Sabah segera meninggalkan negaranya dan Kuwait dijadikan provinsi ke-19 Irak dengan nama Saddamiyat Al-Mitla` pada tanggal 28 Agustus 1990, sekalipun Kuwait membalasnya dengan serangan udara kecil terhadap posisi posisi Irak pada tanggal 3 Agustus 1991 dari pangkalan yang dirahasiakan.

Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki.

Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990.

Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain baik negara-negara Arab kecuali Syria, Libya dan Yordania serta Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa khususnya Eropa Barat (Inggris, Perancis dan Jerman Barat), serta beberapa negara di kawasan Asia. Pasukan Amerika Serikat dan Eropa di bawah komando gabungan yang dipimpin Jenderal Norman Schwarzkopf serta Jenderal Collin Powell. Pasukan negara-negara Arab dipimpin oleh Letjen. Khalid bin Sultan.

Misi diplomatik antara James Baker dengan menteri luar negeri Irak Tareq Aziz gagal (9 Januari 1991). Irak menolak permintaan PBB agar Irak menarik pasukannya dari Kuwait 15 Januari 1991. Akhirnya Presiden Amerika Serikat George H. Bush diizinkan menyatakan perang oleh Kongres Amerika Serikat tanggal 12 Januari 1991. Operasi Badai Gurun dimulai tanggal 17 Januari 1991 pukul 03:00 waktu Baghdad yang diawali serangan serangan udara atas Baghdad dan beberapa wilayah Irak lainnya serta operasi di daratan yang mengakibatkan perang darat yang dimulai tanggal 30 Januari 1991.

Irak melakukan serangan balasan dengan memprovokasi Israel dengan menghujani Israel terutama Tel Aviv dan Haifa, Arab Saudi di Dhahran dengan serangan rudal Scud B buatan Sovyet rakitan Irak, serta melakukan perang lingkungan dengan membakar sumur sumur minyak di Kuwait dan menumpahkan minyak ke Teluk Persia. Sempat terjadi tawar-menawar perdamaian antara Uni Sovyet dengan Irak yang dilakukan atas diplomasi Yevgeny Primakov dan Presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachev namun ditolak Presiden Bush pada tanggal 19 Februari 1991. Sementara Sovyet akhirnya tidak melakukan tindakan apa pun di Dewan Keamanan PBB semisal mengambil hak veto. Israel diminta Amerika Serikat untuk tidak mengambil serangan balasan atas Irak untuk menghindari berbaliknya kekuatan militer Negara Negara Arab yang dikhawatirkan akan mengubah jalannya peperangan.

Pada tanggal 27 Februari 1991 pasukan Koalisi berhasil membebaskan Kuwait dan Presiden Bush menyatakan perang selesai.

Tanggal 2 Agustus 1990 – 28 Februari 1991
Lokasi Teluk Persia
Hasil Kemenangan mutlak koalisi,
pembebasan Kuwait.
Casus belli Invasi Irak ke Kuwait.

Pihak yang terlibat

Koalisi PBB : Norman Schwarzkopf (Amerika)
Kekuatan :660.000
Jumlah korban yang tewas : 378.000 orang
Jumlah korban yang terluka : 1.000 orang

Irak : Saddam Hussein
kekuatan :360.000
Jumlah Korban yang tewas : 25.000 orang
jumlah Korban yang terluka : 75.000 orang